Long weekend emang yang paling ditunggu-tunggu. Saya dan suami sebenarnya belum punya rencana fix mau mengisi liburan kemana. Biasanya kami ke Bandung. Tapi kami lagi ingin berpetualang berdua ke tempat baru. Suami lagi ingin liat pantai, saya juga ingin merilekskan pikiran liat panorama hijau dan biru (katanya warna hijau itu menenangkan lho! Mangkanya kalau stres, banyak-banyak liat yang berwarna hijau).

Kamis malem kami belum ada ide mau kemana, hehe.. udah ada bayangan pengen ke Pulau Seribu, tapi kami buta arah, ga pengalaman, dan udah sangat terlambat untuk mesen ke agen travel wisata, biasanya agen menampung pesanan minimal seminggu sebelumnya-lah.

Jumat subuh kami mulai memutar otak dan googling sana-sini, thanks to Google we can do quick search and research, kami ngeliat pemberangkatan kapal ke Pulau Seribu, rute perjalanan ke pelabuhan, penginapan, dll. Akhirnyaaa.. dengan bermodalkan nekat kami siap berangkat! Ini juga sih serunya, tanpa itinerary dan tanpa gambaran, hehe.. tantangan bo!

Buat yang mau jalan-jalan ke Pulau Seribu, khususnya Pulau Tidung, sebenarnya ga perlu takut kalo mo membolang sendiri, tanpa travel agen, karena sebenernya kita bisa cari-cari jalan sendiri dan lebih bebas mengatur perjalanan kita. Ongkos ke sana pun sebenarnya ga terlalu mahal kok.

Jadi begini perjalanan kami…

Dari informasi yang kami dapat kalau mau ke Pulau Seribu bisa dari Marina Ancol atau dari Pelabuhan Muara Angke. Dari Marina Ancol biasanya kapalnya lebih bagus dan tentunya gak perlu menghirup polusi bau amis, catatan penting: Angke tu bauuu pisannn >.<. Tapi enaknya di Angke ini lebih banyak kapal-kapal yang ada untuk berangkat, dari Marina cuma keberangkatan pagi saja. Kami memutuskan untuk naik kapal dari Angke biar lebih aman. Katanya untuk pemberangkatan ke Pulau-pulau Seribu, seperti Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dll ada 2 kali pemberangkatan (terutama kalau  hari libur), jam 07.00 dan jam 13.00. Kami mengejar keberangkatan kapal siang hari.

Tantangan berikutnya: nah lho, dari Bekasi bisa sampai ke Pelabuhan Angke gimana yaa?

Saya inget rute KRL ada yang sampai ke stasiun Angke. Akhirnya nekat juga kami berangkat. Jam 8 pagi perjalanan kami dimulai berbekal ransel bak Dora (tapi gak pake peta) dan perbekalan secukupnya. Di stasiun Bekasi kami cari kereta dengan jam berangkat paling cepat. Ternyata yang ada paling cepet kereta ekonomi, yawes ambil aja, cuma Rp1.500, kami bisa sampai di Stasiun Jatinegara. Setelah tanya petugas kereta untuk ke Stasiun Angke, kami bisa lanjut naik kereta yang ke arah Depok. Nanti kereta ini lewat ke Stasiun Angke (kami juga ga beli tiket lagi, murah banget kan Rp1500 bisa sampai ke Stasiun Angke, hehe.. Kalau yg AC harganya Rp6.500).

Udah sampai di Angke sebenarnya kami gatau ke Pelabuhan Muara Angke naik apa, modal muka tebal, nanya-nanya lagi, ternyata harus naik 2x angkutan umum, dari stasiun naik angkot merah, turun di perempatan Jembatan Dua, deket kok sebenernya. Lanjut naik angkot merah lagi yg jurusan Grogol-Muara Angke. Nanti si angkot ini berhenti terakhirnya di Pelabuhan. Baru deh udah kecium bau-bau “sedeeph” tandanya kita udah sampe.

Sekitar jam 10 kurang kami sampai di pelabuhan, kayak anak ilang, nanya-nanya lagi ini kemana yang tempat berangkat kapal, terus mana yang ke Pulau Tidung. Pas banget kami nemu kapal yang mau ke Tidung, loncat deh kami ke kapal, gak lama setelah pantat kami nancep di bangku kapal, eh kapalnya jalann… what a coincidence! Untung aja masih dapet kapal. Ternyata kalau long weekend gini mungkin keberangkatan kapalnya lebih banyak, jam 10 kita udah berlayar.

Perjalanan dengan kapal tradisional ini memakan waktu 2,5 jam, paling cepet 2 jam. Kalau dengan kapal lumba-lumba katanya sih lebih cepet. Tarif kapal ini Rp33.000 per orang. Enaknya pilih tempat duduk di atas atau di depan dek biar bisa liat pemandangan bagus selama perjalanan, lautnya tenang, ada burung, ada ikan yang loncat-loncat (gatau nama ikannya apa), cumaaa ati-ati panassss mataharii! bisa gosong ntar, pake sunscreen, sunblock, dan kacamata item sangat membantu (bukan gegayaan lho kacamata item teh). Oya bawa bekel minum sama snack, karena pasti kelaperan di jalan.

Sampai di sana, kami nyari-nyari homestay. Di sana penginapannya semua dari rumah penduduk. Ada yang nyewain kamar aja, ada yg rumah, ada yang paviliun kecil, banyak pilihannya. Kalau sama travel agen enaknya kita udah dianter dan disediain tempat, repotnya kita harus cari-cari ndiri. Sebelumnya kami udah telepon ke salah satu homestay di Tidung, random itu juga, liat di google, ada beberapa nama, dan akhirnya kami telpon ke Kautsar homestay (suami bilangnya, kayanya namanya Kautsar ini agak terpercaya deh, hehe). Alhamdulillah setelah nyari-nyari penginapan ini sampai sempet nyasar, akhirnya ketemu juga, bapaknya baik dan tempatnya juga oke. Ada AC, tv, kamar mandi, dan ruangannya luas lagi, sebenernya ini lebih cocok kalau untuk pergi rame-rame sama temen, soalnya lega dan bisa lebih hemat. Oya semalamnya Rp250.o00. Kami ga sempet survey untuk cari penginapan lain, udah cape, panas, dan ingin cepet-cepet maiiinn. Sebenernya kalau mo dicari lagi masih bisa dapet yang sesuai selera, ga usah takut kehabisan penginapan kok. Emang lebih amannya ya telepon dulu untuk booking sebelum sampai di sana.

Ga buang waktu, kami langsung cabut ke spot utamanya. Pantai, laut, jembatan cinta. Kami langsung ber-uwooohh-uwoooh-Subhanallah..

Di sana tersedia fasilitas permainan seperti banana boat, snorkeling, kano, motorboat, dan donat boat. Sebelum main, kami jalan-jalan dulu dehh.. Jembatan cinta itu puanjaaaang dan kalau liat view sekelilingnya bagusss banget, cuma ada beberapa kayunya yang rusak jadi harus hati-hati. jembatan utamanya ini suka dipake orang untuk loncat dari atasnya *kami belum coba*. Jembatan panjang ini berakhir di pulau Tidung kecil, di sana ada warung-warung makanan, jual kelapa muda, mie instan, dll buat ganjel perut setelah sampe di ujung jembatan. Di Pulau Tidung kecil ini kami lanjut jalan lagi, lumayan juga jauhnya, menembus dedaunan dan pohon-pohon, warna hijauuu.

Lanjut kita balik ke spot utama, ga tahan pengen basah-basahan akhirnya kami main banana boat. Tarif perorangnya Rp35.000 sekali naik dan dua kali diceburin, hehe. Ga lupa sempet juga naik kano Rp50.000/2 orang selama 30 menit. Banana boat ini banyak diminati, ga usah takut pas diceburin dari boatnya, kan pake pelampung :P. Pengen lanjut snorkeling tapi udah sore, sayang kalau sewa dari sore, karena jam sewanya cuma sampai jam 18.00. dan dengan Rp35.000 itu alat snorkeling bisa dipake sehariannn! Kami jadwalkan snorkeling besok pagi sampai puasss.

Sudah hampir magrib kami pun pulang ke penginapan, bersih-bersih, dan siap nyari makanaaaann: seafood sasaran kami. Tarif makanannya relatif ga mahal juga, satu porsi udang atau cumi Rp20.000, ada juga sate kedong-kedong, haha.. ini kami belum pernah coba. Kedong-kedong itu yang kaya gini:

ternyata bisa disate (isinya lho).

Besok paginya, rencananya pengen liat sunrise, tapi udah ditungguin ga kliatan, karena cuaca agak mendung juga sih. Oya di sini juga bisa sewa sepeda, lumayan biar ga capek jalan. Biaya sewanya cukup murah, seharian sampai besoknya cuma Rp15.000. Sampai di spot utama Pulau Tidung, kamipun siap snorkeling, walupun masih sepi. Katanya sih pemandangan bawah laut ini tetep telihat jelas di pagi hari.

Ini dia setelan snorkeling kami:

Kami cuma snorkeling di spot yang deket-deket sama pantai aja *maklum cupu*. Lagian kami juga ke spotnya jalan dan renang kok, ga pakai perahu segala. Pemandangan bawah lautnya subhanallah….. seperti di akuarium raksasa, ikan-ikannya indah, warna-warni, lucuuu.. ada karang dan biota laut lainnya, indahnyaaa.. pengen bisa difoto, sayang ga punya kamera tahan aer. Saya seneng bisa ngeliat ciptaan Allah di bawah laut, cuma saya suka rada parno, bisi ada hiu tiba-tiba muncul *kepengaruh nonton shark dan jaw, haha*. Oya hati-hati pas lagi jalan dan renang, kadang bisa kegores karang.

Setelah puas cuci mata di bawah laut, kami siap-siap pulang, walaupun ga tau jadwal kapal pulang, kami pede aja ke pelabuhan untuk cari kapal ke Angke. Ternyata jam 11 ada kapal yang berangkat, Alhamdulillah.. kami pulang, dengan rute yang sama dengan berangkat, naik angkot, dan naik kereta.

Hati senang walau badan pegal. Hati riang walau muka gosong, hehe.. Membolang bersama suami seru banget dah! Alhamdulillah. Kadang-kadang sesuatu yang ga direncanain malah bisa terjadi juga :).

About these ads